Ada dua momen dalam satu hari yang mempunyai nilai istimewa daripada momen yang lain. Yaitu pagi hari dan sore hari. Dua momen ini selalu mempengaruhi keberhasilan suatu aktifitas dalam sehari, meskipun tidak mutlak. Namun, seandainya kita kehilangan dua momen penting ini, sepertinya kita kehilangan sesuatu yang berimbas pada diri kita pada hari itu.
Pagi hari merupakan momen awal sukses atau tidaknya sebuah aktifitas pada suatu hari. Ibarat sebuah perlombaan motor balap, pagi hari merupakan warming up dimulainya perang. Kalau warming upnya sukses, maka balapan pun akan lancar. Sebaliknya, ketika warming upnya bermasalah, maka besar kemungkinan pembalap tersebut akan kalah dalam lomba, bahkan sangat mungkin tidak bisa mengikuti lomba. Analogi lain, pagi hari merupakan ukuran kesuksesan sebuah kegiatan kemahasiswaan di kampus. Sederhana saja, ketika briefing pra kegiatan pagi hari dipahami semua panitia, kegiatan akan berjalan sukses. Dan sebaliknya, ketika kita kehilangan briefing pagi, kita akan ”buta” saat kegiatan berlangsung. Bingung akan melakukan apa dan harus menempatkan diri pada posisi mana. Dalam dunia perdagangan apalagi, momen pagi hari merupakan kunci dibukanya rezeki pada hari itu. Biasanya, bakul-bakul di pasar tradisional sangat akrab dengan momen pagi hari untuk kulakan, menyewa transport menuju pasar, dan sepagi mungkin membuka dagangannya. Sekali terlambat, bisa dimungkinkan rezeki sudah ”dimakan” pedagang lain.
Sedangkan soe hari merupakan momen yang sangat tepat untuk melakukan syukur, sekaligus membuat rencana perbaikan-perbaikan yang akan dilaksanakan esok hari. Aktifitas pada suatu hari umunya diakhiri pada sore hari. Bank akan menghitung jumlah semua transaksi pada sore hari, dan membuat marketing plan hari berikutnya. Para pedagang akan menghitung untung rugi hasil dagangannya sore hari, dan berencana memperbaiki cara berdagangya. Guru akan meninggalkan sekolah pada sore hari dan menyiapkan bahan pembelajaran untuk muridnya besok. Secara umum, seperti itulah roda kehidupan manusia yang berjalan selama ini.
Dua momen itulah yang memegang kunci penting kehidupan manusia. Pagi dan sore hari. Bukanya momen lain tidak penting, tidak. Tetapi imbas yang dibawa tidak akan sedahsyat dua momen diatas. Sekarang menjadi tugas kita masing-masing untuk bisa mengambil ibrah. Sesungguhnya hidup ini hanyalah sekali dan tidak akan berulang. Jumlah helai nafas sudah terhitung. Jumlah detak jantung telah dijatah. Berpisahnya ruh dengan jasad kita adalah kepastian yang tidak bisa ditunda ataupun dipercepat sedikitpun. Tetapi itu semua bukanlah hal yang harus kita takuti, kita cemasi, atau kita khawatiri. Yang harus kita lakukan adalah melakukan sesuatu yang memiliki manfaat untuk orang lain di waktu sisa ini. Siapapun kita, apapun kita, pasti memilki potensi kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Potensi inilah yang harus kita maksimalkan sedemikian rupa mempunyai manfaat untuk orang lain. Semampu kita. Setiap hari adalah saat memaksimalkan potensi untuk kebermanfaatan bersama. Setiap hari adalah proses perbaikan diri menjadi lebih baik. Setiap hari adalah even mempersiapkan bekal sebanyak mungkin. Karena waktu kita benar-benar terbatas. Setiap hari adalah proses menjadi manusia terbaik di mata-Nya. Dimuali dengan memegang kunci sukses hari-hari. Yaitu momen pagi dan sore hari.