RSS

Tiga Segmen Pemilih di Pemilu 2014

Kurang dari tiga bulan lagi, kita warga negara Indonesia akan menghadapi momen istimewa lima tahunan yakni pemilu atau pemilihan umum. Pesta demokrasi yang menjadi jembatan perubahan sejarah bangsa ini akan diselenggarakan serentak di seluruh penghujung nusantara tanpa terkecuali. Kembali, dari sabang sampai merauke, seluruh warga negara Indonesia diminta partisipiasnya untuk mengeveluasi, menganalisa dan menilai kinerja para wakilnya di parlemen secara pribadi. Baik-buruk, berhasil-gagal, semuanya dinilai secara personal dan merdeka oleh masing-masing kepala di republik ini. Dan hasil dari penilaian individu ini akan dikembalikan pula kepada masing-masing untuk mengambil keputusan apakah pilihannya selama ini tepat, ataukah salah, kemudian secara bebas pula, masing-masing warga berhak untuk memilih  wakilnya kembali untuk lima tahun ke depan. Tentu saja, ongkos kerja besar ini sangatlah tinggi, mulai ongkos logistik sampai ongkos transportasi, serta ongkos tenaga dan pikiran yang dibutuhkan juga tentu besar. Dan pada akhirnya, kerja-kerja besar ini diharapkan akan memberikan perubahan yang besar pula untuk kebaikan negara kita di masa yang akan datang. Amin.

Melihat geliat masyarakat menjelang pemilu, saya melihat setidaknya ada 3 (tiga) segmentasi besar para pemilih pada pemilu kali ini. Tiga segmentasi itu sebut saja : Segmen Skeptik, Segmen Optimis serta Segmen Pemula. Dari ketiga segmen ini, segmen pertama dan kedua merupakan segmen yang sudah berpengalaman dalam pemilu, sedangkan segmen ketiga baru bertama kali turut serta dalam pemilu 2014.

Segmen Skeptik berisi sebagian kelompok masyarakat kita yang menilai bahwa pemilu ini sudah menjadi barang ‘bangka’ dan tidak bisa diharapkan lagi. Dalam pengalaman mereka, dari sekian pemilu yang sudah mereka ikuti selama ini nampaknya tidak membawa hasil yang positif untuk perubahan bangsa. Wakil yang mereka pilih, tidak cukup berdaya untuk merubah bangsa seperti yang dijanjikan dalam kampanye. Yang ada, pemilu hanyalah mencetak tikus-tikus koruptor baru yang semakin licik mencuri uang-uang rakyat. Para pemimpin dan pegambil keputusan, hanya berorientasikan kepentingan pribadi dan golongan, tanpa memperhatikan nasib rakyat. Sudut pandang seperti ini tidak sepenuhnya salah, karena mungkin, dari sekian banyak berita yang mereka baca dan lihat, prosentase pemberitaan ‘kejahatan’ yang ditorehkan para pejabat pilihan mereka jauh lebih dahsyat dari berita ‘prestasi’ mereka. Ini jauh dari harapan mereka dan malah cenderung mengecewakan. Inilah yang membuat segmen ini semakin skeptis dalam menghadapi pemilu. Sebagian dari segmen ini, ada yang masih mau mengikuti pemilu meski dengan setengah hati dan ogah-ogahan, dan sebagian yang lain memilih golput alias tidak ikut pemilu.

Segmen kedua, Segmen Optimis, adalah mereka yang masih punya semangat optimisime membangun negeri ini. Mereka sadar, bahwa pemilu yang mereka ikuti selama ini belum membawa hasil yang signifikan bagi bangsa, namun mereka tidak mau behenti disitu saja kemudian mengutuk dan mencela keadaan. Sebagian mereka masih percaya kepada wakil pilihan mereka dan yakin bahwa pilihan mereka ini baik dan mampu memberikan perubahan positif, hanya masalah momentumnya saja yang belum pas. Mereka, secara aktif, memberikan masukan-masukan yang baik, kritik yang membangun dan support kepada para calon-calon wakil mereka di 2014 untuk bekerja lebih optimal lagi di masa yang akan datang. Sedangkan sebagian lain dari segmen ini, lebih berspekulasi dengan memilih pemain baru di 2014. Pemain baru ini memiliki program dan jargon baru bahkan janji yang lebih besar untuk merubah bangsa tercinta ini menjadi lebih baik. Walaupun, sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian besar isi dari pemain baru ini adalah pemain lama yang belum mendapatkan kesempatan untuk ‘unjuk diri’. Generasi optimis ini memegang peranan penting dan krusial dalam pemilu 2014.

Sedangkan kelompok yang ketiga adalah kelompok Segmen Pemula yang berisi para pemilih pemula. Mengutip statement salah satu pimpinan partai politik di negeri kita bahwa generasi ini disebut sebagai generasi ‘native democracy’ yang berarti generasi yang lahir ketika Indonesia sudah dalam fase demokrasi penuh, sudah melewati masa orde lama dan masa otoritarianisme. Artinya mereka hidup dan besar dalam alam demokrasi, bebas mengeluarkan pendapat, bebas berkespresi dan bebas berdiskusi. Generasi inilah segmen besar yang bisa dikatakan generasi yang paling kritis di pemilu 2014. Antusiasme mereka sebagai pemilih pemula, dibarengi dengan kebiasaan sikap kritis sebagai masyrakat demokrasi penuh akan membuat partai politik harus menjadi lebih cerdas dalam menjaring suara. Janji-janji palsu sudah bukan zamannya lagi, money politics juga tidak akan berlaku bagi mereka. Mereka hanya bisa didekati dengan pendekatan visi dan knowledge perjuangan partai.

Pada akhirnya, semua terpulang kepada kita untuk berada pada segmen yang mana dalam pemilu ke depan. Pendapat saya pribadi, menjadi golput alias golongan tidak ikut pemilu, hanya akan menjadi golongan yang ‘menyerah dengan keadaan’ dan kurang bertanggung jawab. Dalam arti sederhana, acuh tak acuh terhadap nasib bangsa sendiri, dan membirkan politik kembali berpontesi dikuasai oleh orang-orang yang tidak berkompeten bahkan orang jahat, karena satu suara kita untuk orang baik, bisa berbicara banyak. Jadi, mari kita gunakan hak pilih kita dengan bijak. Semoga Indonesia ke depan menjadi bangsa yang lebih baik melalui Pemilu 2014, Insya Allah.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on January 28, 2014 in Uncategorized

 

Technology : The Outcome of Creativity

Most of people around the world today, are using technology in almost entire of their life. Some of them said that without technology, people will loss their half of life. This arguments are definietly correct. We can see our circumstances nearby, are there anything or something regardless technology? The answer must be negative. Every part of our activities today are intervented by the using of technology. Writing, working, studying, cooking, and even sports are such activities which technology is basically used totally or particularly.

A simple example is in the world of social networking. You can pay attention to Facebook, the world most well-known social networking site, which has been being used by more than million people around the world. A kind of software by which you can meet you friends, old friends, and new friends with what they are currently doing. Twitter, the other stuff to dive in social netwotrking, Plurk, which has time schedulle to show the activities done by the user. And so on.

You might have ever heard about Ferarri, the most sophisticated sports car ever. But not anymore. It is Christian Von Koenigsegg who has created Koenigsegg Automotive. The car branded “Koenigsegg” give a giant shock to Ferrari with the product. Koenigsegg car has 440 pounds of mass, much less than Ferrari 3196 poundmass. But, the horsepower produced by Koenigsegg are huge better, 1018 hp, compared to Ferrari which is “only” 490 hp. The Koenigsegg car is controlled by intelligent Engine Control Unit (ECU) as a function as CPU in computer. So, in the other words, this car has already had a “brain” to manage the system simultanously.

Few month ago, Google was also shocking the world with its latest product called Android. A super user-friendly operating system with wide application provided, and even free installed as many as need. Another easy, when the latest version on Android are available, the user has just need to connect the phone to the internet, and the phone will install and upgrade the latest version automatically. A great panic situation is surrounding Windows now.

All the examples above show us that technology is a part of our life, and it is not a matter whether you like it or not. But, we have to know that there are something very important inside technology which has made it successfully control the world now. This “something inside” is not a tangible aspect. It cannot be seen, it cannot be touched. it cannot be visualisized. It is intangible aspect. And it is creativity.

Technology nowadays  is not only deal with  involute formulae, dilligent mathematics function, physical graphs, crowded laboratory, white-hair and thick-glasses Professor, clumsy researcher, more than that. Technology already has a “Soul” in creativity, and this creativity, believe or not, has made technology invention wider and deeper.  The area which hasn’t been being reached by experts or by business industry has been solved easily by technology. For example in bussiness, years ago,  people who had an account in a bank in a country, could not use that account outside the country. But, Information technology has implemented a simple problem solving. Now, people are not afraid of  lacking of  money in foreign country, they already have a visa or mastercard, they can make withdrawl everywhere. This is what we call creativity inside the technology. Visa and Mastercard are smart enough to implement creative techology in their business process. So, they can reach and expand their business around the world. And this such creativity, for sure, is already inside the mind of Bill Gates, Mark Zukerberg, Donald Trump, Christian Von Koenigsegg,  Stephen Covey, Robert T. Kiyosaki, Bruce Wayne, Mario Teguh, Abu Rizal Bakrie, and many other Technopreneurs in the world.

That is why, we have to be creative today. Indeed, creativity is not a given. Yoris Sebastian, a young success entrepeneur, said that creativity is about doing something else everyday, do not do the same way, even if it is just a way to go to your office.  Creativity is an intangible aspect. We can get it by deep practising, in all field of our life. Creativity is a must. Those who are creative, those who will control the world. Because technology has already had a creativity.

Malacca, September 21, 2010

Inspired by Zulaikha.

 
2 Comments

Posted by on September 21, 2010 in Teknologi

 

Selamat Idul Fitri 1431 H

Subhanalloh,

Kita menghela nafas ramadhan tanpa terasa mendekati penghujung. Suka duka ramadhan sebentar lagi akan kita tinggalkan.  Semoga semua amal  kita : puasa, solat, sedekah, zakat, dan ibadah-ibadah lain diterima Allah SWT.  dan Allah memberikan kesempatan untuk bertemu “Si Penggugur Dosa” kembali tahun depan.

Semoga semua peluh, tangis, tawa, dan berjuta rasa lain yang terbit selama bulan puasa ini, menjadi unsur pemanis harmoni kehidupan kita yang sementara.

Teruntuk saudara-saudara saya tercinta karena Allah,  saya berawal diri mengucapkan Taqobbalallohu Minna Wa Minkum, Selamat Idul Fitri 1431 Hijriyah.  Kembali kepada Fitrah, dan Meraih Kemenangan.

Ahmad Yusuf Ismail

 
1 Comment

Posted by on September 7, 2010 in Religi

 

Dua momen

Ada dua momen dalam satu hari yang mempunyai nilai istimewa daripada momen yang lain. Yaitu pagi hari dan sore hari. Dua momen ini selalu mempengaruhi keberhasilan suatu aktifitas dalam sehari, meskipun tidak mutlak. Namun, seandainya kita kehilangan dua momen penting ini, sepertinya kita kehilangan sesuatu yang berimbas pada diri kita pada hari itu.

Pagi hari merupakan momen awal sukses atau tidaknya sebuah aktifitas pada suatu hari. Ibarat sebuah perlombaan motor balap, pagi hari merupakan warming up dimulainya perang. Kalau warming upnya sukses, maka balapan pun akan lancar. Sebaliknya, ketika warming upnya bermasalah, maka besar kemungkinan pembalap tersebut akan kalah dalam lomba, bahkan sangat mungkin tidak bisa mengikuti lomba. Analogi lain, pagi hari merupakan ukuran kesuksesan sebuah kegiatan kemahasiswaan di kampus. Sederhana saja, ketika briefing pra kegiatan pagi hari dipahami semua panitia, kegiatan akan berjalan sukses. Dan sebaliknya, ketika kita kehilangan briefing pagi, kita akan ”buta” saat kegiatan berlangsung. Bingung akan melakukan apa dan harus menempatkan diri pada posisi mana. Dalam dunia perdagangan apalagi, momen pagi hari merupakan kunci dibukanya rezeki pada hari itu. Biasanya, bakul-bakul di pasar tradisional sangat akrab dengan momen pagi hari untuk kulakan, menyewa transport menuju pasar, dan sepagi mungkin membuka dagangannya. Sekali terlambat, bisa dimungkinkan rezeki sudah ”dimakan” pedagang lain.

Sedangkan soe hari merupakan momen yang sangat tepat untuk melakukan syukur, sekaligus membuat rencana perbaikan-perbaikan yang akan dilaksanakan esok hari. Aktifitas pada suatu hari umunya diakhiri pada sore hari. Bank akan menghitung jumlah semua transaksi pada sore hari, dan membuat marketing plan hari berikutnya. Para pedagang akan menghitung untung rugi hasil dagangannya sore hari, dan berencana memperbaiki cara berdagangya. Guru akan meninggalkan sekolah pada sore hari dan menyiapkan bahan pembelajaran untuk muridnya besok. Secara umum, seperti itulah roda kehidupan manusia yang berjalan selama ini.

Dua momen itulah yang memegang kunci penting kehidupan manusia. Pagi dan sore hari. Bukanya momen lain tidak penting, tidak. Tetapi imbas yang dibawa tidak akan sedahsyat dua momen diatas. Sekarang menjadi tugas kita masing-masing untuk bisa mengambil ibrah. Sesungguhnya hidup ini hanyalah sekali dan tidak akan berulang. Jumlah helai nafas sudah terhitung. Jumlah detak jantung telah dijatah. Berpisahnya ruh dengan jasad kita adalah kepastian yang tidak bisa ditunda ataupun dipercepat sedikitpun. Tetapi itu semua bukanlah hal yang harus kita takuti, kita cemasi, atau kita khawatiri. Yang harus kita lakukan adalah melakukan sesuatu yang memiliki manfaat untuk orang lain di waktu sisa ini. Siapapun kita, apapun kita, pasti memilki potensi kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Potensi inilah yang harus kita maksimalkan sedemikian rupa mempunyai manfaat untuk orang lain. Semampu kita. Setiap hari adalah saat memaksimalkan potensi untuk kebermanfaatan bersama. Setiap hari adalah proses perbaikan diri menjadi lebih baik. Setiap hari adalah even mempersiapkan bekal sebanyak mungkin. Karena waktu kita benar-benar terbatas. Setiap hari adalah proses menjadi manusia terbaik di mata-Nya. Dimuali dengan memegang kunci sukses hari-hari. Yaitu momen pagi dan sore hari.

 
5 Comments

Posted by on April 11, 2008 in Ringan di kepala

 

Sandal Jepit

    Kadang kita perlu melihat lingkungan sekitar. Bisa jadi, sesuatu yang  kita anggap sepele mempunyai nilai ilmu atau nasihat yang besar. Selama ini kita mempunyai kecenderungan untuk “hanya” mengamati hal-hal yang penting dan besar saja, misalnya manusia, jalan raya, toko, film, uang, dan lain sebagainya. Jarang sekali kita melihat hal-hal kecil dan sepele.

Sebagai contoh adalah sandal jepit. Kalau dilihat sepintas, memang, sandal jepit bukanlah berarti apa-apa. Ia hanyalah sebuah benda yang kita kenakan sehari-hari ketika pergi ke tempat yang kurang penting. Pergi ke kamar mandi, pergi ke kebun, pergi membuang sampah, kita kenakan sandal jepit itu.  Padahal, kalau kita mau sedikit lebih  dalam menghayati sandal jepit ini, ada banyak ilmu dan nasihat yang tersirat di dalamnya. Banyak sekali. Tetapi entah kita yang tidak tahu, atau tidak “mau” tahu, mungkin kita terlalu sibuk untuk memikrkan itu.

Pertama, sandal jepit dikenakan SEMUA ORANG di Indonesia. Tidak ada yang alergi dengan sandal jepit. Orang miskin, orang kaya, orang sederhana, orang befoya-foya, semua memakai sandal jepit di suatu saat dalam hidupnya. Tidak masalah meskipun hanya sebentar memakainya. tetapi konteksnya adalah memakai. Malah, ketika kehilangan sandal jepit, orang cenderung kesusahan untuk mengerjakan sesuatu.  Semua orang dari semua suku -kecuali yang belum terjamah- pasti memakai sandal jepit. Tidak ada perasaan gengsi, malu, ketika memakai sandal jepit, walaupun memang  memakainya biasanya di rumah.

Kedua, desainnya yang sederhana mampu menahan morfologi kaki yang sedemikian rumit konturnya. Bayangkan, hanya satu pengait di depan dan tiga percabangan kecil yang melingkari kaki, mampu menahan beban berat langkah manusia selama berbulan-bulan. Luar biasanya lagi, desain ini cocok untuk semua jenis kaki manusia, karena sifat elastisitas dari karet yang mampu beradaptasi dengan bentuk-bentuk baru. Padahal, bisa kita bayangkan, pabrik pembuat sandal jepit itu tidak pernah -bahkan tidak mungkin- mendesain sandal jepait dengan ketelitian dan proses perancangan yang rumit, tanpa penelitian. Anehnya, semua produk sandal jepit pas di kaki pemakainya.

Dan masih banyak lagi.

Seandainya kita mau mencontoh sandal jepit, pastilah hidup kita akan lebih bahagia. Kita sebagai manusia bisa dicintai semua orang tanpa kecuali. Kita bisa diterima disegala lapisan. Kita bisa memberikan manfaat kepada semua orang meski hanya sebentar.
Kesederhanaan kita akan lebih disukai orang lain. Orang lain tidak suka melihat orang yang berlebih-lebihan. Justru kesederhanaanlah yang akan membawa wibawa. Dan yang lebih utama lagi, orang seperti kita  berjumlah sangat banyak. Tidak hany kita.

 
3 Comments

Posted by on March 30, 2008 in Ringan di kepala

 

Tak sekedar malam…

    Kenapa Allah Tuhan semesta alam raya ini menciptakan malam? Jawabnya mudah. Karena Beliau tahu segala kelemahan kita sebagai manusia. Manusia pasti memiliki rasa lelah, penat, dan letih. Tidak bisa dipungkiri bahwa superman itu tidaklah ada. Semua manusia di muka bumi ini apapun jabatannya, berapapun kekayaannya, pasti mmebutuhkan istirahat.

Sederhana memang. Tapi terkadang manusia terlalu sombong untuk mengakui kelemahannya. Terlalu ujub membanggakan kekuatan dirinya. Manusia seringkali merasa bahwa derajatnya di atas manusia yang lain, sehingga terjadilah anarkisme, kanibalisme, dan kapitalisme. Manusia memakan manusia. Seolah-olah merekalah penguasa dunia. Padahal seandainya Tuhan Yang Maha Agung memberikan “sedikit” peringatan, pastilah  manusia itu tidak akan mampu menerimanya.

Itulah fungsinya malam. Malam adalah momen refleksi buat kita, manusia. Malam adalah saat memuhasabahi -mengevaluasi- kinerja kita selama satu hari. Apakah kita ini masih menjadi manusia yang berbudi? Ataukah kita ini ternyata hanyalah sampah? Tidak berguna bagi siapapun? Masihkah layak kita ini disebut manusia?

Malam, dengan segala keindahannya meyiratkan sebuah petunjuk bagi manusia untuk selalu memahami, bahwa kelemahan dan kekurangan adalah mutlak dimiliki. Tidak ada Superman di dunia ini. Tidak ada seorangpun yang memiliki kesempurnaan di seluruh penjuru bumi ini. Malam telah berbicara kepada kita umat manusia, untuk selalu memperbaki diri setiap saat. Menjadi manusia yang produktif, dan bermanfaat bagi ummat.

 
2 Comments

Posted by on March 28, 2008 in Ringan di kepala

 

Mengawali sesuatu dengan senyum

Semua orang menyukai senyuman. Senyum berarti pancaran kebahagiaan yang tengah dirasakan. Senyumpun bisa menularkan kebahagiaan. Tatkala seseorang tengah mendapat sebuah nikmat yang sangat besar, senyum di bibirnyalah yang dapat menampakkan seberapa besar kebahagiaan yang dia rasakan.

Senyum adalah sedekah kita kepada saudara kita. Lewat senyuman kita, hati teman atau saudara kita yang dirundung kesusahan akan sedikit terobati, apalagi ditambah sapaan lembut dan akrab kita. Sedihpun akan segera sirna, gundah tak akan lagi bicara, semua pergi entah kemana, dan kebahagiaan akan menggantikan semuanya.

Senyum adalah sebuah kekuatan untuk bergerak, memulai sesuatu dengan benar. Satu senyum sebelum melakukan sesuatu akan menambah nilai pekerjaan yang akan kita lakukan. Tanpa senyum, semua akan terasa berat dan memuakkan. Sebaliknya, pekerjaan akan terasa ringan tatkala dilaksanakan dengan senyum keikhlasan. Tanpa kita sadari, sebanyak apapun pekerjaan yang kita lakukan, akan terasa cepat selelesai.

Seorang penyair akan mengatakan bahwa senyum ibarat sebuah puisi pantomim. Tanpa banyak bicara tapi memiliki keuatan yang luar biasa. Seorang penulis akan menghabiskan berlembar-lembar halaman untuk melukiskan indahnya sebuah senyuman yang merasuk ke dalam hati. Seorang pelukis tidak akan mampu melukiskan indahnya senyuman di atas kanvas, karena memang tidak akan pernah bisa divisualisasikan. Seorang istri akan terbang melayang ke langit ketujuh tatkala mendapatkan senyuman cinta suaminya. Seorang anak akan sangat bangga saat melihat senyum kepuasan orang tuanya.

Satu senyuman akan merubah dunia. merubah dunia menjadi lebih bersahabat. Satu senyuman akan menghujam bumi, menggetarkan segala apa yang ada di sekitarnya. Satu senyuman adalah segalanya. Jangan pernah menyepelekan senyum. Senyum kita adalah kekuatan. Kekuatan yang tak tergantikan, bagi kita, bagi keluarga kita, bagi dunia.


 
4 Comments

Posted by on March 27, 2008 in Ringan di kepala